RECRUITMENT ALA BILL GATES

computer(Mencari Jenius yang Kreatif)
Bagaimana mengetahui kemampuan calon karyawannya ? IQ memang penting, begitu pula, katanya, EQ. Microsoft memiliki metode tersendiri.
Sejumlah tip rekrutment perangkat lunak nomor satu itu. Calon karyawan manakah yang anda pilih : yang ber-IQ 140 ( jenius) atau 100-110 ( rata-rata ) ? Pertanyaan sederhana ini ternyata membentuk dua kubu yang bertolak belakang, tapi masing-masing memiliki argumen yg kuat.

Kelompok pertama memilih kandidat ber-IQ tinggi. Argumennya : orang cerdas akan lebih mudah menangkap inti masalah dan lebih mampu menyelesaikannya. Walhasil , mereka akan lebih produktif ketimbang yang kurang cerdas.

Bill Gates, pendiri dan pemilik Microsoft, termasuk yang mengutamakan kecerdasan . ” Hanya orang-orang tercerdas yang mendapat tempat di Microsoft,” kata Bill yang ber-IQ 140. Untuk membuktikan asumsinya, ia menunjuk fakta bahwa hingga kini Microsoft masih terdepan dalam pengembangan peranti lunak komputer.

Kelompok kedua, yang cenderung memilih kandidat ber-IQ biasa-biasa saja, juga punya argumen : para jenius cenderung egosentris dan sulit dipahami orang lain, sehingga kepandaiannya malah acap menjadi batu sandungan bagi diri sendiri dan orang lain.

Di Amerika Serikat, negara yang memperkenalkan pendekatan IQ, juga tak sedikit penentang korelasi antara kecerdasan dan kesuksesan . artikel di American Magazine terbitan 1924 dengan penuh keyakinan menyebut sukses bisnis dan kehidupan justru dibangun oleh orang-orang medioker, dan kejayaan suatu suatu perusahaan bukan disebabkan pekerjanya orang-orang brillian. Contohnya : pasukan terbaik Oliver Cromwell, panglima perang Inggris, justru terdiri dari orang-orang bodoh tapi penuh antusiasme. Jadi kunci sukses menurut kelompok ini adalah antusiasme, ketekunan dan dedikasi.

Lewat bukunya , Emotional Intelligence ( 1995 ), Daniel Goleman , PhD menambah syarat lain : EQ ( emotional quotient ), yang berperan dalam kecerdasan emosional dan perasaan. EQ berperan pada lima wilayah utama : kemampuan memahami diri sendiri, mengelola emosi diri ( stress ), memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain ( empati), dan membina hubungan. ” Kecerdasan semata akan menjadi sia-sia bila tak diimbangi sikap mental yang sehat,” kata penulis artikel ilmiah untuk The New York Times dan mantan editor Majalah Psychology Today ini. Dalam bernegosiasi, misalnya, orang yang mengandalkan IQ semata akan cenderung egois dan memaksakan kepentingan berdasarkan hitung-hitungan teknis. Adapun orang yang memadukan IQ dan EQ-nya bis a lebih arif , luwes , menghargaia pendapat orang dan menggunakan pendekatan win to win yang memuaskan kedua belah pihak.

Persoalannya baik IQ maupun EQ belum tentu menggambarkan kondisi sesungguhnya seorang calon pekerja. Itulah sebabnya, jika disimak lebih jauh, Bill Gates sebenarnya tak semata mengandalkan kecerdasan logika ( IQ), melainkan lebih ke Inteligensi Praktis (Practical Intelligence) : kemampuan menganalisis serta menyesuaikan diri secara cepat dan tepat dalam menghadapi situasi yang terus berkembang.
Maka ketimbang menoleh tes IQ, Gates lebih banyak mengorek kepandaian, kemampuan dan kepribadian kandidat yang diincarnya lewat observasi, wawancara mendalam dan mempelajari track record.

Inilah cara Microsoft mencari orang-orang terbaiknya ntuk membangun dan membesarkan kerajaan bisnisnya.

1. Bersikap proaktif untuk mendapatkan yang terbaik. Meski setiap bulan dibanjiri 120 ribu lebih lamaran, Gates dan para top eksekutif Microsoft tetap tekun mencari orang-orang terbaik di kampus-kampus terbaik, dari berkas lamaran, dan dari perusahaan pesaing . gates bahkan pernah membeli perusahaan software demi memperoleh orang pandai yang memiliki perusahaan itu

Gates punya alasan tersendiri mengapa ia selalu mencari yang terbaik. Perkembangan yang revolusioner di bidang teknologi informasi membuat daur usia software sangat singkat. Dengan demikian, yang diperlukan bukan sekedar ahli teknik, tapi justru lebih penting – orang yang cerdas , yang mampu beradaptasi dan mempelajari ketrampilan yang dibutuhkan di masa depan.

“Microsoft bisa mengajari karyawannya segala ketrampilan yang diperlukan di bidangnya,” ujar Gates, ” tapi kami tak bisa membentuk inteligensi dan kreativitas yang harus pula sudah ada pula pada individu itu sendiri,”

2. Manfaatkan berkas aktif, Masukkan semua resume lamaran ke dalam komputer dengan memberi kata kuncinya, Gunakan data ini sebagai berkas aktif, sehingga sewaktu-waktu membutuhkan karyawan, anda tinggal menyeleksinya.

3. Libatkan semua pihak, Merekrut karyawan bukan semata tugas bagian personalia/pengemba ngan SDM. Seluruh karyawan terlebih para eksekutif senior – harus terlibat mencari orang-orang terbaik . Gates dan wakilnya pun sering turun tangan langsung mewawancarai kandidat. ” Kalau kami sendiri tak peduli, karyawan lain pun akan berpikir : mengapa saya harus peduli ? ”

4. Kenali apa yang dibutuhkan. Agar bisa menemukan calon yang tepat, Anda harus mengetahui persis kebutuhan divisi yang mengajukan permintaan tambahan tenaga.

5. Tanyakan, apa yang paling menarik perhatian si kandidat. Dari jawaban-jawabannya kita bisa mengetahui penguasaan seseorang di bidang yang paling dikuasainya itu dan wawasannya. Jika ia tak menguasai bisnis yang katanya paling menarik baginya, bagaimana ia menguasai bidang lainnya ?

6. Utamakan kemampuan penalaran . Gunakan pertanyaan yang bersifat brainteaser untuk menguji kemampuan penalaran dan daya analisis. Umpamanya : berapa banyak air yang mengalir melalui sungai Ciliwung setiap harinya ? Yang penting bukan benar atau salah, tapi argumen dan caranya menyolusi permasalahan yang dihadapi. Dari jawaban-jawabannya kita bisa mengetahui keluwesan seseorangserta kemampuannya mempelajari
konsep-konsep baru.

7. Jangan terlalu mengandalkan psikotes. Hasil tes sering hanya berupa ya atau tidak dari suatu pilihan berganda. Kita tak bisa mengetahui kreativitas seseorang dari jawaban seperti ini.

Bagi Microsoft, aset terpenting adalah gabungan isi kepala orang-orang yang ada di perusahaannya. ” Coba saja ambil 20 orang terbaik kami, pasti Microsoft tak akan menjadi perusahaan yang perlu diperhitungkan lagi,” kata Gates serius. Ini pula yang membuatnya selalu waspada dan mengevaluasi metode recruitment . Jika seseorang mengundurkan diri pada 12 bulan pertama masa kerjanya, kami perlu mencari tahu alasannya dengan seksama,” katanya. Siapa tahu ada yg salah : entah metode atau orangnya.

Itulah sebabnya, jika disimak lebih jauh, Bill Gates sebenarnya tak semata mengandalkan kecerdasan logika (IQ), melainkan lebih ke Inteligensi Praktis ( practical intelligence ) : kemampuan menganalisis serta menyesuaikan diri secara cepat dan tepat dalam menghadapi situasi yang terus berkembang.

(dari majalah SWA 05/XIII/28 Maret 9 April 1997)

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Komputer, Pendidikan, Umum dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke RECRUITMENT ALA BILL GATES

  1. adhiwirawan berkata:

    Hebat ya, seandainya recruitment pegawai pemerintah kita seperti M$…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s