Kartini Kita

kartini_1

Apa jadinya bila bangsa ini tidak menghargai para pahlawan-pahlawannya ? Pertanyaan ini ditimbul jikala kita mengenang dan memperingati hari ulang tahun atau hari jadinya seorang pahlawan untuk republik ini.

Bertepatan dengan hari Kartini yang jatuh pada hari ini, banyak dari kawula Indonesia yang tidak sadar kalau hari ini merupakan hari kartini yang telah membuka mata bagi dunia perempuan Indonesia yang pada zaman penjajahan belum mendapatkan hak-hak/martabatnya layaknya manusia yang bermartabat.

Dengan perjuangannya dari Raden Ajeng Kartini (RA KArtini) yang tidak mengenal lelah untuk memajukan kaumnya khususnya perempuan-perempuan Indonesia pada saat itu, yang sangat-sangat jauh untuk mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan kaum pria. Maka pada saat sekarang dengan kehidupan yang modern, selayaknyalah untuk semua kaum wanita atau kaum pria di negeri ini agar menghargai kepahlawanan/perjuangan dari RA KArtini untuk kaum dan bangsanya, sehingga sekarang dapat kita lihat dimana-mana munculnya kartini-kartini yang tangguh dan berkiprah disegala bidang pekerjaan dimana yang dulunya hanya kaum pria saja yang mengerjakan pekerjaan tersebut.

Tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini atau hari emansipasi wanita yang diambil dari lahirnya RA. Kartini yang konon memperjuangkan nasib para wanita dengan bukunya yang terkenal “habis gelap terbitlah terang”.

Para saat sekarang ini wanita-wanita berlomba-lomba menjadi Kartini-Kartini baru, mereka dengan semangat meningkatkan karir, memperjuangkan status dan lain-lain demi disejajarkan dengan pria.

Dalam hal tersebut mungkin ada wanita yang berjalan benar dengan arti emansipasi yang sebenarnya yaitu tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai wanita dan banyak pula wanita yang dengan lantangnya berbicara emansipasi sehingga kebablasan serta ada pula wanita yang pasrah dengan kodratnya.

Ada pengalaman menarik ketika saya sedang berangkat kerja naik Kereta Api Listrik (KRL), kita tahu sendiri bagaimana kondisi KRL di Jakarta apalagi pada jam-jam sibuk : padat, sesat, sumpek. Ketika saya dan teman-teman saya asyik duduk di KRL dari stasiun lain naik sekumpulan wanita kira-kira 6 orang, semuanya masih muda-muda, mereka asyik mengobrol, kebetulan mereka sedang membicarakan tentang peringatan hari kartini di sekolah adiknya, mereka asyik membicarakan tentang emansipasi yang intinya mereka sependapat bahwa mereka layak sejajar dengan pria. Setelah agak lama seseorang dari mereka berkata ”uuuhhh gak ada yang mau ngalah yaaaa sama wanita ??” dengan rawut mukanya cemberut, yang lain dengan kompak menjawab ”iya nih”.

Mendengar hal tersebut teman saya langsung dengan spontan menjawab ”katanya emansipasi wanita, kalau kalian mau disejajarkan dengan pria, yaa harus mau donk menggantikan peranan pria yaitu berdiri di atas KRL, sementara kami yang duduk, emang enak emansipasi”.

Terjadi perdebatan sengit antara teman saya dengan wanita-wanita tersebut, mereka mempertahankan argumen mereka masing-masing.

Sebetulnya di Indonesia sudah banyak perempuan-perempuan yang dapat kita sejajarkan perjuangannya dengan RA Kartini dari sejak zaman penjajahan, seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Martina Christina Tiahahu, dan banyak yang lainnya lagi. Kembali pada penilaian kita masing-masing terhadap perjuangan kaum perempuan tersebut yang kita sebut pahlawan. Kenapa hanya RA KArtini yang disebut pahlawan untuk emansipasi perempuan ? Kenapa yang lainnya tidak ?

Menurut saya pribadi pahlawan hanyalah sebutan dari perjuangan yang dilakukan oleh individu-individu. Kalau saya untuk scope kehidupan yang lebih kecil yaitu keluarga, Ibu kandung saya adalah Kartini saya sejak saya kecil, Istri saya adalah Kartini bagi saya dan anak saya untuk sekarang, dimana kartini-kartini saya tersebut merupakan pahlawan yang nyata dalam kehidupan saya baik disaat saya sedang butuh pertolongan ataupun disaat saya dalam masa bahagia…..

Semoga perjuangan Kartini menginspirasi kehidupan dari anak-anak negeri ini……

Terima kasih…..

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Catatan Harian dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s