Geliat Politik

pemimpin

Akhir-akhir ini kalau kita lihat di televisi, dikoran-koran, didalam radio, diatas mimbar, dunia di ranah perpolitikan di negeri ini sangat-sangatlah panas dan banyak manuver-manuver dari elite politik. Beberapa saling merapat dan bertemu, ada pula partai yang sesama internal ribut masalah perjuangannya selama pemilu, ada partai yang sesama internal kelihatannya tidak kompak, ada partai yang bisanya hanya mengkritik dan sekarang mencari dukungan kesana sini……Ada partai yang tadinya sahabat baik kini harus mengucapkan selamat tinggal, ada partai yang tadinya mengancam akan memboikot pemilu kita, kini bergabung dengan poros-poros atau blok-blok yang aku tidak tahu lagi namanya apa (poros tengah, poros kiri, poros perubahan, blok S, blok M, blok perubahan)….. banyak sekali istilah-istilah yang digunakan….……

Marilah kita sama-sama nantikan untuk babak selanjutnya pemilihan dari wakil-wakil kita ini. Yang tadinya punya motto “Lebih Cepat Lebih Baik” saat inilah kita tunggu buktinya, apakah mereka dan elite-elite politiknya dapat membuktikan bahwa dapat membuat Indonesia lebih cepat pertumbuhannya (khususnya ekonomi) lebih baik dalam pembangunan disegala bidang, ataukah nanti lebih cepat rakyatnya banyak menderita dan lebih baik dalam hal koruptornya… kita tunggu……jangan-jangan hanya lebih cepat mengadakan kampanye tetapi lambat dalam membela wong cilik, atau jangan-jangan hanya lebih baik mengobral janji-janjinya selama pemilu tetapi jelek dalam menyalurkan aspirasi rakyat….

Harapan saya dan harapan kita semua, agar dalam proses pemilu legislatif dan sampai pada Pemilihan Presiden (Pilpres) nanti kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa yang besar ini tidak mengalami gejolak yang tidak kita inginkan seperti halnya negara tetangga kita Thailand. Rakyat sudah capek hidup menderita, rakyat sudah capek mendengar jorgan-jorgan politik, rakyat sudah capek hanya menjadi komoditas politik, tetapi rakyat jugalah yang merasakan dampak pertama akibat kebijaksanaan-kebijaksanaan yang SALAH baik itu politik, hukum, ekonomi, dan sosial…..

Semoga saja para pemimpin kita dapat memahami, mengerti serta merasakan dari kesulitan rakyat selama ini…..seperti ada pepatah yang mengatakan…….. JANGAN MERASA BISA TAPI HARUS BISA MERASA…….Sebetulnya kata-kata tersebut berasal dari wejangan dalam bahasa jawa “AJA SOK RUMANGSA BISA NANGING KUDU BISA RUMANGSA. Kira-kira apa maksud yang tersimpan….???

Jangan Merasa Bisa

Artinya kurang lebih : jadi manusia tidak perlu sombong, merasa serba bisa, sok pinter, menyepelekan orang lain, tidak menghargai usaha orang lain, “gampangke masalah”,seolah-olah dirinya paling sempurna, paling benar, tidak pernah salah dan masih banyak lagi persamaan kata lainnya. mari kita urai pada konteks yang lebih jelas.

Beberapa waktu lalu kita disuguhi dengan tontonan para elite partai dan jurkam yang sedang mengadakan pasar dadakan dengan dagangan utamanya “OBRAL JANJI”. Kalau kita cermati sebagian besar para jurkam menyampaikan hal yang muluk seolah-olah bisa merubah, menyelesaikan masalah negera ini ataupun mensejahterakan masyarakat dalam waktu sekejab. Menganggap hal itu sangat enteng untuk dilakukan. Janji sembako murah, BBM murah, pendidikan gratis, kesehatan gratis dan berbagai macam bantuan semuanya diobral tanpa memberikan argumentasi yang rasional bagaimana cara mencapai hal itu. Merasa bahwa dirinya adalah manusia super yang akan mensejahterakan rakyat ini begitu terpilih.

Harus Bisa Merasa

Sebaliknya yang harus dilakukan adalah berempati terhadap orang lain yang ada disekeliling kita, siapapun yang kita hadapi. Misalnya Pemimpin negara kita, Bos kita, teman kerja, bawahan, patner bisnis, tetangga, teman, saudara atau bahkan keluarga kita (anak, istri, suami maupun orangtua kita). Ada kala kita harus mengambil sudut pandang dari sisi orang lain agar dapat mengerti dan memahami kondisi masing-masing yang pada akhirnya akan memunculkan rasa saling membutuhkan. Sehingga kita bisa menjalani hidup secara elegan, memanusiakan manusia.

Kita perlu memahami apa yang diharapkan bawahan dari atasan, begitu pula pemimpin kita di DPR yang seharusnya dapat memahami apa yang rakyat banyak harapkan pada saat ini. Seorang bawahan secara umum akan merasa nyaman bekerja apabila atasannya memberikan perhatian, atasan membimbingnya ketika menghadapi masalah, atasan memberikan apresiasi atas hasil kerja, atasan memberikan ruang untuk berpendapat dan ketika melakukan kesalahan atasan menegurkan dengan secara manusiawi bukan dengan dimaki ataupun dipermalukan di depan umum, begitu pula anggota dewan kita yang terhormat di DPR/MPR rakyat Indonesia pada saat ini akan merasa nyaman bila pemimpin memberikan perhatian & membantu mencari jalan keluar jika ada masalah. Apabila kedua belah pihak (RAKYAT & PEMIMPIN) saling pengertian dan saling menghargai posisi masing-masing, maka alangkah indah dan nikmatnya suasana negara Indonesia yang sangat kita cintai ini…..

Semoga bermanfaat…

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Catatan Harian, Umum dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Geliat Politik

  1. sugiarno berkata:

    Tulisan yang bagus dan enak dibaca. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s