Manusia Taat Waktu

J0341439SALAH satu simpul ajaran agama Islam yang sangat mendasar adalah agar kita membiasakan hidup dengan menghargai waktu. Allah SWT menegaskan pentingnya mentaati waktu, bahkan karena saking pentingnya, Allah sampai-sampai memulai firman-Nya dengan sumpah, seperti bisa kita baca dalam Alquran surah al-Ashar.

“Demi masa (waktu). Sungguh, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS 103:1-3).

Salah satu contoh wujud dari menghargai waktu adalah kesepakatan Nabi Muhammad dengan masyarakat yang dituangkan dalam mitsaq al-madinah. Kontrak sosial yang populer sebagai Piagam Madinah ini merupakan common platform yang mengikat perjanjian untuk hidup bersama, gotong royong, saling melindungi, dan saling menghormati antarseluruh warga masyarakat.

Di Madinah, Nabi SAW berusaha menciptakan masyarakat yang tunduk terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang disepakati bersama masyarakat dalam rangka mewujudkan tertib sosial, yang merupakan cermin dari penghargaan kepada waktu.

Dalam konteks masyarakat modern, sebagai wujud menghargai waktu, mereka memiliki undang-undang yang baku sebagai produk dari sebuah perjanjian antara seluruh elemen warga masyarakat. Mereka memiliki aturan tegas dan mapan yang dapat menata siklus dan proses kehidupan, yang mengandalkan penalaran rasional dan kerja produktif. Undang-undang mengajarkan kita untuk hidup disiplin, aman, damai, nyaman, dan tenteram, sehingga ketika bekerja kita dapat menghasilkan produk yang maksimal.

Perintah untuk hidup berdisiplin dan teratur ini sangat terkait dengan salah satu agenda yang dipesankan agama, bahwa kita harus menumbuhkan etos kerja keras (working ethos). Bekerja keras merupakan salah satu karekter masyarakat modern yang berkeadaban.

Dalam suasana puasa Ramadan ini, semangat bekerja seharusnya tidak boleh menurun atau kendor. Justru dengan puasa, semangat bekerja semakin meningkat, sehingga hari-hari puasa kita adalah hari-hari produktivitas. Puasa mengajarkan kita untuk hidup berdisiplin.

Di dalam firman-Nya, Allah mengingatkan agar setelah bekerja keras kita tidak mengotori lagi dengan memakan harta yang haram, yang jelas-jelas bukan milik kita. Kita diperintahkan menahan diri agar tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat yang akan menghancurkan akses dan sumber kebahagian sejati di masa depan. Tunduk kepada gaya hidup foya-foya, hedonistis, materialistis, konsumtif, dan kapitalistis, akan menghancurkan kita kepada krisis sosial, politik, dan ekonomi, yang tidak berkesudahan.

Ketidakmampuan kita menahan diri dari kenikmatan yang berjangka pendek dan serba instan itulah yang membuat kita jatuh terpuruk ke jurang kehinaan. Agar kita tidak menjadi tahanan kepentingan sesaat yang bersifat materi itu, maka kita diperintahkan untuk berpuasa.

Inti puasa adalah pengendalian diri dari berbagai nafsu badani, seperti makan dan minum. Dalam penghayatan puasa, kita sekaligus dibimbing untuk menghayati kedekatan dan kehadiran Tuhan. Ketika menghayati kedekatan Tuhan, kita juga menghayati kesucian atau kefitrian jati diri yang mengarah kepada kebaikan, belas kasih, kejujuran, serta ketaatan kepada aturan waktu.

Itulah sebabnya, selama berpuasa kita dilatih untuk menaati aturan-aturan yang disyaratkan bagi sahnya ibadah puasa kita. Ketika kita berhasil mengendalikan dan mengatur kehidupan kita, maka sesungguhnya kita telah hidup berdisiplin.

Kita harus menunjukkan kepada orang lain, bahwa kita adalah bangsa yang berdisiplin, yang mampu berkata “tidak” pada berbagai bentuk ketidakteraturan. Kualitas pribadi seperti inilah yang semestinya dikembangkan dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.

Muara atau buah ibadah puasa harus bisa dirasakan oleh sesama manusia. Antara lain, kita berkomitmen untuk menegakkan disiplin nasional. Jika salat diawali dengan takbir, maka puasa akan berujung pada zakat dan saling memberi maaf. Artinya, semua upaya pembersihan dan pensucian diri harus dilanjutkan berupa menegakkan salam (damai) sebagai buah dari berdisiplin untuk semua manusia. Dengan kata lain, upaya pembersihan dan pensucian diri itu harus berujung kepada pembersihan dan pensucian sosial dan struktural.

Dalam konteks ini, kita harus menegakkan aturan, hukum, etika, dan disiplin. Hal ini sangat relevan untuk kita yang sedang menunaikan ibadah puasa.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa…

Semoga, Insya Allah kita semua mendapatkan gelar taqwa…amin…

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Hikmah, Ibadah, Personalia, Ramadhan, Umum dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s