Heboh, Harta Karun Sungai Musi

Ratusan warga nekat menyelami Sungai Musi sejak pagi sampai sore hari untuk mencari harta karun. Aktivitas ini dipicu kabar ada kelompok penyelam yang menemukan arca dan menjualnya seharga Rp 3 miliar belum lama ini.

Jumlah penyelam tradisional dalam satu bulan terakhir ini terus bertambah, mencapai 45 kelompok berperahu yang masing-masing beranggotakan empat sampai tujuh orang. Mereka datang dari Sungai Batang dan sebagian besar warga Tangga buntung. Tidak tanggung-tanggung, satu kelompok menggunakan dua perahu yang direkatkan menjadi satu dan bekerja sejak pukul 09.00 sampaipukul 17.00.

Mereka bergantian menyelam, mengangkut benda berharga bercampur pasir dari dasar sungai menggunakan karung. Beberapa kelompok merupakan pencari barang rongsokan, seperti besi, yang sudah lama menggeluti pekerjaan itu.

Namun, banyak diantaranya orang-orang baru yang sengaja membeli perahu dan kompresor untuk mengadu nasib. Doni (35 tahun), penambang di depan Musi River Side bersama tiga rekannya, merupakan salah satu kelompok yang terang-terangan mengaku tergiur harta karun itu. Mereka baru turun ke sungai dua hari yang lalu setelah dimodali seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan bos. Sebelumnya Doni sopir angkot trayek Tanggabuntung-Ampera yang banting stir ke sungai karena pendapatan cenderung menurun akibat kalah bersaing dengan pengojek.

“Siapa yang tidak mau kaya mendadak. Tapi barang-barang berharga begitu untung-untungan. Ada garis tangan orang yang dapat. Saat ini kami baru mendapatkan lempengan emas kecil,” katanya. Para penambang memanfaatkan momen air sungai surut karena kemarau. Perahu-perahu mereka labuh jangkar di sepanjang Sungai Musi dari Pelabuhan 35 Ilir sampai kawasan 8 Ilir.

Pilihan tempat tidak tetap karena mereka berpindah lokasi jika tidak menemukan benda berharga yang dicari. Lokasi favorit mencari harga karun di depan Plaza Benteng kuto Besak (BKB) dan Pasar Sekanak karena kedalaman air kisaran 12 m -15 m. Sedikitnya ada sepuluh kelompok yang beroperasi di wilayah ini. Di tempat ini disebutkan kelompok penambang yang menemukan arca seharga Rp 3 miliar itu. “Mereka tidak pernah datang lagi. Saya ingat perahunya baru, yang beli patung (arca, red) itu orang kita. Mereka panggilnya Pak Haji,” kata, Nasir, tukang ketek di Dermaga BKB.

Kelompok penambang beruntung itu jumlahnya enam orang. Satu pimpinan yang merupakan pemilik perahu, dua orang penyelam dan tiga lainnya membantu mengais pasir bercampur bebatuan setelah disiram air. Potongan Tangan Emas Menurut Nasir, orang yang bertugas menimba air sungai pakai ember kebagian uang Rp 75 juta dari penjualan arca itu.

Di kalangan para penambang menyebutkan ada pula kelompok yang beruntung menemukan potongan tangan emas di dekat Jembatan Ampera, kemudian patung kuda emas dan beberapa benda berharga lainnya. Sejak itu pula kabar berhembus bak angin surga. Warga pun berduyun-duyun turun ke sungai meski modalnya tergolong besar. Satu perahu harganya mencapai Rp 3 juta – Rp 7 juta, kompresor suplai oksigen berikut selang 40 meter untuk menyelam Rp 800 ribu- Rp 1,5 juta, dan alat bantu masker penghubung oksigen Rp 450ribu – Rp 800 ribu.

Kebutuhan harian untuk solar kisaran 5 liter dan ongkos makan minum. Suhari, pimpinan kelompok penambang di depan Plaza BKB, mengatakan, kabar penemuan besar itu membuat mereka semangat melakukan penambangan setiap hari sejak pukul 09.00 sampai pukul 17.00. “Informasi sudah menyebar meski kebenarannya masih simpang siur. Siapa orang yang beruntung itu kami tidak tahu,” katanya. Sejauh ini, kelompok Suhari dan Doni baru menemukan lempengan emas berukuran kecil yang dijual seharga Rp 150 ribu – Rp 240 ribu per gram.

Lempengan ini ringan dan melayang dibawa arus sehingga berada di lapisan terluar dasar sungai. Para penambang hanya mampu mengangkut lapisan pasir sedalam 5 cm. Mereka kesulitan karena tidak menggunakan alat bantu, tapi menguruk pasir ke dalam karung pakai tangan telanjang. Ujang, pimpinan penambang di depan BKB, mengatakan, arus di bawah sungai lebih deras dibanding di permukaan. Meski sudah berpegangan ada tali, tubuh tetap melayang sehingga tidak mungkin membawa alat sekop turun ke dasar sungai. Kelompok ini juga hanya mendapatkan lempengan emas berukuran kecil. Ujang meyakini benda berharga dalam ukuran besar bisa jadi mereka temukan jika mampu mengeruk lapisan lebih dalam.

Hasil survei PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) belum lama ini,pendangkalan Sungai Musi mencapai 1-1,5 juta meter kubik (M3) pertahun, dan untuk pengerukan dibutuhkan sedalam 5-6 meter. Sejarahwan Universitas PGRI Palembang yang menjabat Pembantu Dekan III FKIP, Sukardi MPd, mengatakan, harta karun peninggalan jaman Sriwijaya berupa arca dan benda berharga lainnya berupa perhiasan emas dan senjata peninggalan masa penjajahan kemungkinan terpendam lebih dalam. “Kemungkinan adanya harta karun sangat besar karena alur Sungai Musi sudah digunakan sejak jaman Sriwijaya. Pada jaman itu pasti ada kapal yang tenggelam,” katanya.

 

 

Sumber : Sriwijaya Post

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Berita & Informasi, Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s