Mengagungkan Bulan Ramadhan

BULAN Ramadan saat ini berada di tengah-tengah kita. Bulanyang direspon berbeda-beda oleh kaum muslimin. Ada sebagian kaum muslimin yang rindu dengan bulan Ramadan. Bahkan mereka ini sudahmengadakan persiapan-persiapan dari mulai Bulan Rajab. Bahkan mereka berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan. Hingga pada akhirnya ketika datang bulan Ramadan, mereka sangat gembira dan sangat antusias menyambut bulan Ramadan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Allah mengharamkan tubuhnya atas neraka.”

Berdasarkan fakta yang ada ditengah kaum Muslimin, bahwa perasaan gembira ini terbagi menjadi dua.

Yang pertama adalah kaum Muslimin yang gembira dalam hal dunia. Mereka gembira karena membayangkan akan banyak makanan yang lezat, minuman yang segar, serta hal lainnya dari dunia secara berlebihan. Sehingga mereka hanya sibuk memikirkan menu apa yang akan dimakan katika sahur dan menu apa yang akan dimakan ketika saat berbuka. Setiap hari mereka hanya memikirkan kepentingan perut mereka, tanpa mau perduli apa lagi mau berfikir mengenai bagaimana ibadah puasa mereka sah apa tidak, diterima Allah apa tidak. Alangkah kasihannya mereka ini, mestinya kita khawatir, kalau kita berpuasa tetapi kita tidak memikirkan dan tidak memperdulikan bagaimana nasib puasa kita di sisi Allah jangan-jangan yang hanya kita dapati dalam ibadah puasa ini hanya rasa lapar dan haus saja, sedangkan nilai pahalanya kita tidak mendapatkannya.

Yang kedua adalah kaum Muslimin yang gembira dalam hal akhirat. Mereka gembira karena mereka tahu bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Mereka menyibukkan diri dengan memperbanyak ibadah kepada Allah di Bulan Ramadan karena pahalanya dilipat gandakan oleh Allah. Seperti solat berjamaah, sholat tarawih, membaca Alquran, bersedekah dan sebagainya. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadan dengan beriman dan mencari pahala Allah, maka diampunkanlah baginya dosa yang telah berlalu.” Orang ini menganggap puasa Ramadan tahun ini adalah puasa Ramadan yang terakhir baginya, sebab mungkin saja puasa Ramadan tahun depan dia sudah mati sudah pinda warga tidak hidup di dunia lagi -wallahu a’lam – nasib seseorang tiada yang tahu.

Tapi sungguh sayang, ada juga kaum muslimin yang merespon bulan Ramadan biasa saja. Mereka menganggap bulan Ramadan seperti bulan di tahun Masehi. tidak ada hal peningkatan yang signifikan terutama di dalam ibadah kepada Allah. Yang berbuat dosa tetap berbuat dosa, yang berbuat maksiat tetap berbuat maksiat, yang berbuat zina tetap berbuat zina, yang berbuat judi tetap berbuat judi, yang berbuat korupsi tetap berbuat korupsi dan perkara maksiat lainnya. Pendek kata mereka menganggap bulan Ramadan biasa saja. Inilah orang-orang yang tidak mendapat bagian apa-apa dari keagungan bulan Ramadan yang suci ini.

Berikutnya yaitu masih ada segelintir kaum muslimin yang menyambut bulan Ramadan dengan kesusahan.Na’uzubillah min dzaalik. Mereka susah karena tidak bisa makan dan minum di siang hari. Mereka susah karena pendapatan berkurang. Mereka susah karena pengeluaran bertambah. Mereka susah karena harga-harga naik. Dan berbagai kesusahan-kesusahan lainnya yang seharusnya tidak disikapi dengan berlebihan. Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda,” Seandainya ummatku mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadan, tentu mereka akan berharap kalau satu tahun adalah bulan Ramadan seluruhnya”.
Respon yang berbeda-beda oleh kaum Muslimin disebabkan karena pengetahuan dan pemahaman yang berbeda-beda tentang bulan Ramadan. Analogi yang sederhana yaitu seperti pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak rindu, tak rindu maka tak ingin bertemu”. Kaum muslimin yang tahu dan paham tentang kemuliaan bulan Ramadan maka ia akan mengagungkan bulan Ramadan.

Ada suatu kisah bahwa ada seorang laki-laki yang tidak pernah mengerjakan sholat. Tetapi ketika bulan Ramadan tiba, dia berhias diri dengan pakaian bagus dan wangi-wangian, lalu mengerjakan sholat dan mengqodho sholat-sholat yang telah ditinggalkan.
Ditanyakalan padanya, “Mengapa engkau mengerjakan demikian?” Dia menjawab, “Ini adalah bulan taubat, bulan rahmat dan bulan barokah. Mudah-mudahan Allah mengampuni aku berkat karunia-Nya.”
Setelah dia meninggal dilihat dia dalam mimpi dan ditanyalah dia, “Apa yang diperbuat Allah padamu?” Dia menjawab, “Allah telah mengampuni aku berkat aku mengagungkan bulan Ramadan.”

Boleh saja kita mengagungkan Ramadan dengan cara kita membersihkan rumah atau menghiasinya, dengan cara memakai baju baru atau berusaha yang indah dan lain sebagainya, tetapi yang paling benar kita mengagungkan bulan Ramadan yang suci ini ialah dengan cara kita meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah dan kita selalu mendekatkan diri kepadaNya.

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Hikmah, Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s