Mudik Lebaran Itu Mulia

DSC00938

SAUDARAKU yang dirahmati Allah SWT. Momentum Idul Fitri memberikan peluang bagi seluruh umat Muslim, kembali ke desa atau kampung halamannya masing-masing untuk mudik Lebaran, paling tidak sekali dalam setahun.

Khasanah religius di setiap perayaan Hari Raya Lebaran memiliki makna mendalam dalam konteks silaturahim dengan saling memberi maaf kepada sesama. Melalui Idul Fitri, seluruh umat Muslim dituntut untuk mampu melakukan pemaknaan kembali terhadap fitrah kemanusiannya.

Para pemudik yang rata-rata merindukan nilai-nilai kebersamaan, itu berkumpul bersama keluarga di hari yang fitri untuk saling memberi maaf, setelah sekian lama tidak bersua karena kesibukan masing-masing.

Maka dengan Idul Fitri kebermaknaan manusia diukur dari seberapa dalam kemampuan dirinya melakukan olah rohani untuk berhubungan dengan Tuhannya secara vertikal, serta kemampuannya merajut jalinan kasih dengan sesama manusia secara horizontal.

Mudik Lebaran merupakan sebuah rutinitas tahunan yang senantiasa terjadi menjelang Idul Fitri. Macam-macam cara ditempuh orang untuk menyiapkan kepulangannya. Pulang ke kampung halaman di dunia ini, atau ke kampung halamannya di akhirat kelak.

Dua tujuan tersebut, meski sama-sama memiliki perspektif yang berbeda, tetapi sungguh sama-sama membutuhkan persiapan, minimal bekal untuk dibawa pulang. Bekal untuk keperluan diri sendiri, atau bekal yang akan dipersembahkan kepada sanak saudara serta para keluarga yang tinggal di kampung.

Mudik ke kampung halaman menjelang Idul Fitri sesungguhnya ajang latihan nyata menjelang kepulangan ke akhirat, sebagai tempat yang abadi untuk kembali ke pangkuan Ilahi untuk selama-selamanya. Tanpa disadari, selama kurun waktu sebelas bulan, berbagai persiapan dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang akan dibawa pulang.

Tradisi mudik saat Hari Raya menyiratkan makna terdalam dari proses penciptaan manusia oleh Sang Khaliq. Allah sudah menetapkan dalam kitab-Nya beberapa hal terpenting yang akan mengiringi kehidupan seorang anak Adam. Beberapa di antaranya adalah persoalan rezeki, jodoh, serta kematian.

Keterikatan antara tradisi mudik dengan perjanjian dalam alam “alastu birobbikum” harus dimaknai secara transendental menyangkut rahasia kematian. Karena mudik memiliki sejarah panjang, bukan saja dari perspektif sosial, tetapi secara ilahiyah terkait pula dengan kedalaman tingkat keberagamaan seseorang.

Dalam konteks mudik, di dalam firman-Nya, Allah selalu mengingatkan, misalnya, “Kemudian, kepadakulah tempat kalian semua pulang.” (Tsumma Ilayya Marji’ukum).

Hingga kini mudik tak pernah tersentuh dan terpengaruh sedikit pun oleh krisis apa pun, termasuk krisis yang tiada henti mendera bangsa ini. Karena, mudik adalah prosesi panjang perjalanan anak manusia menuju Tuhannya.

Saya selalu memandang mulia terhadap mereka yang bisa mudik Lebaran ke kampung halaman. Karena mudik itu merupakan interpretasi waktu yang tersisa selama berjuang di tanah rantau, untuk bisa berbagi dengan saudara-saudara di kampung halaman.

Tak ada seorang pun yang menyangsikan ketulusan hati para pemudik. Mereka sejatinya para pahlawan. Bila dicermati lebih dalam, bangsa mana di atas bumi ini yang tetap bersikukuh untuk mudik berbagi kebahagiaan dengan saudaranya.

Hari Raya Idul Fitri juga merupakan sebuah peristiwa yang membuat berbagai konflik sedikit terlupakan. Tidak ada lagi sekat-sekat kesenjangan karena semua strata sosial dalam masyarakat berbaur.

Ketika itu rakyat jelata saling bersalaman dengan pimpinannya, kaum fakir saling berkunjung dengan ulama panutannya. Semua bisa saling berkomunikasi baik dengan sesamanya maupun dengan warga kampung lainnya. (*)

Oleh : Ustaz Jeffry

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Hikmah, Ibadah, Ramadhan, Umum dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s