Komitmen

Tidak perlulah kita diskusikan lagi definisi kata itu, ya? Rasanya semua yang ikut diskusi ini sudah tahu dengan tepat dan tidak ada ambiguitas akan makna dari kata itu. Saya hanya ingin menyatakan bahwa inilah metode pembelajaran yang paling efektif untuk banyak hal. Maaf, sebelum Anda salah menangkap efektifitas metode ini untuk banyak hal, mari kita lupakan dulu banyak hal kecuali definisi kata ini saja.

Nah, kita masuk ke perusahaan masing-masing. Pasti ada komitmen di sana. Antara atasan dan bawahan, juga antara perusahaan dan konsumen. Ada kalanya berbagai hal membuat Anda kesulitan memenuhi komitmen Anda, baik sebagai bawahan kepada atasan, maupun atas nama perusahaan kepada konsumen. Di sinilah pembelajaran yang saya maksud. Karena konsumen akan mengajarkan pada perusahaan. Atau atasan akan memberikan pelajaran pada bawahan. Pelajaran buruk! Mengapa bisa pelajaran buruk? Ya, iya lah. Ketika konsumen tidak meninggalkan perusahaan dengan memilih produk dari perusahaan lain, maka perusahaan menganggap, tidak ada masalah bila kualitas produk mereka menurut karena tidak memberikan komitmen. Begitu pula yang terjadi di benak bawahan.

Bila tidak ada punishment apapun dari atasan terhadap performansi kerja mereka, maka mereka belajar bahwa tidak ada masalah kalau kinerja mereka memburuk. Toh mereka tidak kehilangan jabatan, fasilitas tidak ditarik, dan banyak kemudahan lain yang selama ini mereka dapatkan masih tetap ada. Berarti bisa juga dilihat bahwa si atasan juga tidak punya komitmen terhadap performansi? Nah, itu baru cerdas! Benar sekali, dugaan Anda itu. Si atasan juga berarti memang tidak punya komitmen sedikitpun terhadap performansi. Karena ketika dia tahu bahwa bawahannya tidak perform, tetapi dia tidak melakukan punishment apapun, dia juga belajar bahwa performansi tersebut kemudian akan semakin melorot.

Nah, saya yakin Anda bukan atasan yang bodoh, yang tidak tahu bahwa performansi itu semakin lama semakin terlihat merosot. Tetapi, saya sebagai atasan tidak dapat serta merta memberikan punishment. Kan ada serangkaian aturan tentang memberi punishment di perusahaan kami. Oh ya? Serangkaian, kan? Dan benarkah Anda memang sudah mencermati seluruh rangkaian pemberian punishment? Benarkah Anda sudah membuka “kacamata kuda” Anda? Oh, mungkin maksudnya stick and carrot theory ya? Tepat sekali. Aduh, rasanya senang sekali bisa berdiskusi dengan orang secerdas Anda! Karena tadi teman Anda yang sempat berfikir bahwa punishment hanya dapat dicari di aturan tentang punishment jadi tercerahkan dengan pertanyaan Anda barusan. Kita memang sedang bicara tentang punishment tetapi tidak harus stick. Ada carrot yang kita ikat di ujung stick, dan ketika performansi menurun, mengapa tidak menjauhkan carrot tersebut dari jangkauan?

Ya, daripada kita semua berfikir bagaimana menghukum orang karena performansinya menurun, mengapa tidak menunda reward yang harusnya dia terima. Kalau perlu, batalkan! Bagi sebagian pegawai Anda, dipindahkan ke tempat yang tidak prestisius saja, sudah dianggap sebagai hukuman. Padahal di tempat yang tidak prestisius tersebut, dengan kompetensi utama ataupun kompetensi tambahan yang dia miliki, mungkin dia malah menjadi “bersinar”. Sehingga ketika dia benar-benar “bersinar” dia bahkan bisa mendapatkan reward yang lebih besar daripada yang sebelumnya Anda batalkan. Pernah terfikir begitu? Benar juga ya? Apalagi kalau “bersinar” nya dia, malah memberikan tambahan keuntungan finansial bagi perusahaan!

Astaga, betapa menyenangkan diskusi kita kali ini. Anda memang benar-benar cerdas! Nah, sekarang kita balik lagi ke kata komitmen tadi. Ketika Anda menandatangani komitmen dengan bawahan Anda, dan ketika performansinya tidak sesuai dengan komitmen yang dia janjikan, maka dia akan menjawab, bahwa bagaimana dia bisa menjual bila barang dagangan tidak Anda siapkan di tempatnya. Ini juga komitmen Anda. Tapi, kan ketersediaan barang dagang di tempat penjualan juga melibatkan pihak lain? Ya iyalah. Tapi Anda punya kewenangan atau bisa meminjam kewenangan atasan untuk memastikan barang tersebut tersedia di tempat penjualan dan siap untuk dijual?

Oh, tentu. Saya punya posisi cukup tinggi untuk menggunakan kewenangan termasuk meminjam kewenangan atasan saya agar barang dagang tersedia di tempat penjualan. Apapun posisi Anda, bila Anda bukan pemilik perusahaan, maka masih ada atasan lagi, bukan? Karena Anda commit dengan performansi, dan memang ketersediaan barang dagang di tempat penjualanlah penyebabnya, komitmen Anda sedang dipertaruhkan! Jadi saya mengusulkan untuk menunda reward, bonus atau insentif saya? Saya percaya Anda cerdas, dan saya percaya Anda commit, serta saya percaya Anda berani melakukan itu. Karena saya percaya bahwa Anda sudah sangat paham bahwa komitmen Anda sekarang sedang dipertaruhkan.
Jadi? Anda bersedia kehilangan reputasi sebagai orang yang punya komitmen, sebagai orang yang cerdas dan berani? Anda juga rela kehilangan reputasi sebagai orang yang jujur? Saya yakin, Anda akan menjawab: Tidak!!!

Karena Tuhan tahu bahwa Anda orang yang punya komitmen, cerdas, berani dan jujur.

Oleh : Ardian Syam

Tentang julidf

Saya adalah seorang karyawan swasta yang pekerja keras, dan telah menikah serta mempunyai dua orang putra berusia 15 & 2,5 tahun.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Hikmah, Pekerjaan dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Komitmen

  1. komitmen adalah salah satu variabel yang dapat digunakan untuk menilai kualitas kerja seseorang. apabila orang tersebut dapat dengan mudah mengingkari mengenai hal-hal yang telah diputuskan atau yang akan dilakukan maka akan membuka awal dari kehancuran sebuah kerjasama atau proyek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s